6 Hal ini Menunjukkan Bahwa Anda Berjiwa Besar

loading...




Jiwa manusia bisa menampung banyak hal, tergantung bagaimana fikiran meresponnya. Ada manusia yang berjiwa besar, ada pula yang tidak. Lantas seperti apa manusia yang berjiwa besar tersebut? Berbagai buku Psikologi, termasuk karya Dale Carnagie pernah membahasnya. Kami akan merangkum beberapa hal yang nampak dalam keseharian, yang menunjukkan seseorang berjiwa besar. Mungkin saja kami memiliki ciri-ciri tersebut.

Marah Untuk Memperbaiki
Apa maksudnya? Orang berjiwa besar tetap manusia biasa, yang tak luput dari amarah. Namun ada perbedaan mendasar marahnya orang berjiwa besar, dengan orang yang kerdil. Orang kerdil cenderung marah karena hal-hal yang menyangkut kepentingan dirinya.

Jika anda seorang atasan, ketika mengetahui ada bawaan melakukan kesalahan dan menyebabkan pekerjaan terganggu, anda mungkin akan memarahinya, tapi tidak di muka umum. Jika lembaga tersebut bergerak dibidang jasa, sehingga menyebabkan konsumen terganggu, atasan tersebutlah yang memintakan maaf dan merasa bersalah pertama kali. Ia tidak akan memarahi bawahannya di depan umum, tapi di belakang. Namun keesokan harinya suasana kembali sedia kala.

Jika anda seorang karyawan, setiap kesalahan membuat anda marah pada diri sendiri, sehingga membuat anda bekerja keras untuk memperbaiki kesalahan dan tidak mengulanginya. Mereka yang berjiwa kerdil akan gampang patah dan menyerah dengan keadaan.

Mudah Melupakan Kesalahan Orang Lain
Umumnya orang akan selalu mengingat perlakukan buruk orang lain kepadanya. Bahkan sampai orang tersebut meninggal. Karena ia merasa dirugikan. Namun orang berjiwa besar akan berfikir sebaliknya, ia menganggap orang yang pernah berbuat jahat padanya adalah ujian bagi kesabaran. Sehingga yang ia fikirkan adalah bagaimana bisa melaluinya. Setelah itu berlalu ia akan lupa.

Orang berjiwa besar pun juga cenderung lebih bahagia, karena dalam hidupnya tidak terbebani rasa benci yang berkepanjangan, apalagi dendam. Karena ia menyadari bahwa benci, dendam, atau iri justru merepotkan dirinya sendiri, membuat hidupnya sendiri tidak produktif.

Mengingat sisi Positif Orang Lain, Dibanding sisi Negatifnya
Orang berjiwa besar nampak dari apa yang dibicarakan. Apalagi ketika membicarakan orang lain, tak sedikit kemudian yang terbawa emosi lalu membicarakan keburukan orang tersebut. Orang berjiwa besar bukannya tidak tahu hal-hal negatif itu, namun ia cenderung melihat sisi positif orang lain.

Menghargai Karya Orang Lain
Ciri khusus orang berjiwa besar adalah menghargai karya orang lain, bahkan untuk orang yang karyanya sejenis dengan karya yang ia buat. Ia tak sungkan memuji sebuah karya, kalau memang lebih baik dari karyanya sendiri. Bahkan ia akan tetap menghargai karya orang lain, sekalipun tidak lebih baik dari karyanya, sebab ia sadar bagaimana rasanya berusaha menciptakan karya.

Apalagi untuk karya yang tidak bisa ia buat, orang berjiwa besar akan angkat topi. Ia bahagia secara tulus, karena dengan karya itu ia bisa belajar, menikmati, sekaligus memotivasi untuk menjadi lebih baik lagi.

Memahami Keanehan Orang Lain
Dalam masyarakat mungkin ada orang yang sekilas tidak sama dengan yang lain. Mulai dari bentuk fisik sampai kebiasaannya. Sebagian orang akan memasang jarak, atau bahkan memberikan label abnormal. Namun orang berjiwa besar akan mempelajari, kenapa keanehan itu bisa terjadi? Setelah tahu sebabnya maka ia akan berusaha memahami, dan tidak ada fikiran sedikitpun untuk melakukan hal yang sama dengan dirinya. Baginya setiap orang itu unik.

Memaafkan Terlebih Dulu
Meski tidak salah, atau bahkan menjadi korban, orang berjiwa besar justru yang meminta maaf terlebih dahulu, sekaligus memaafkan. Maaf yang diutarakan bukan berarti ia merendah, atau merasa dirinya salah, tapi maaf karena mungkin kehadirannya tidak disukai, entah karena alasan apa.

Permintaan maaf itu ia utarakan lebih karena ingin menjalin hubungan baik, karena sadar betul bahwa permusuhan tidak akan memberikan dampak positif. Salah satu hal yang ia lakukan dalam rangka mengharap maaf tersebut salah satunya dengan berbuat baik.

Pada level ini sangatlah sulit. Sebab justru dia yang menjadi korban. Misalkan dalam dunia kerja, dia yang akan selalu disakiti dengan prasangka yang tidak-tidak, atau bahkan dia yang akan dipecat. Tapi seiring waktu, semuanya akan terjawab sendiri, mana yang serius bekerja atau sekedar mengklaim. Ketiadaannya akan terasa, bahkan bisa jadi membuat atasan menyesal karena telah memecatnya. ()

Disarikan dari berbagai sumber

Penulis : Ifan Iswara
Penyunting : I. Falasifa
loading...

Post a Comment

0 Comments