Sering Juara Kelas Tak Menjamin Kesuksesan di Masa Depan

loading...

Orang tua sering membanggakan anaknya yang mendapatkan juara kelas, namun sebenarnya itu tidak cukup. Begitupun sebaliknya, anak yang tidak pernah mendapatkan juara di kelasnya, seringkali dianggap kurang pintar dan kurang sukses di masa depan. Apakah hal ini benar?

Realitasnya, sukses tidak cukup dengan kapasitas akademik. Kecuali jika anak tersebut kedepannya akan berkarir dalam bidang akademik. Dalam bidang lainnya, menjadi wirausahawan misalnya, juara di kelas ternyata bukan jaminan.

Seorang ilmuan bernama Daniel Goleman menemukan teori kecerdasan emosional, bahwa kemampuan mengelola emosi adalah prasyarat penting meraih kesuksesan di masa depan.

Kemampuan ini di antaranya adalah kecerdasan membangun relasi. Siswa yang tak bagus dalam hal akademik, namun punya banyak teman dan disukai banyak orang karena perilakunya, adalah tipe yang memiliki kecerdasan emosi yang baik.

Kemampuan membangun koneksi itulah yang penting. Sehingga, juara di kelas saja tidak cukup, karena hanya akan bangga berada di ruang kelas, namun ketika masuk dalam realitas masyarakat akan gagap. Apalagi jika ia terlalu dimudahkan dalam mengakses fasilitas.

Maka perlu juga melibatkan anak pada aktivitas sosial, belajar membangun kerjasama, koneksi, dan menghargai orang lain. Berusaha agar kecerdasannya di ruang kelas bisa bermanfaat di kehidupan nyata, bukan sebatas angka di rapor semester.

Maka jangan terlampau mengelu-elukan siswa yang sering juara dan menafikan mereka yang tak pernah juara, sebab mereka memiliki kecerdasannya masing-masing. dalam ruang kelas siswa diajak berkompetisi, namun pada realitas sosial kita harus berkolaborasi jika ingin maju.

Psikologi.my.id

loading...

Post a Comment

0 Comments