3 Kecerdasan Anak yang Sering diabaikan Guru dan Orang Tua

loading...



Tidak semua jenis kecerdasan mendapatkan penghargaan serupa di kehidupan, tidak juga di sekolah. Siswa cerdas selalu identik dengan kemampuan ia menjawab soal ujian dan mendapatkan nilai bagus, sehingga pengukurannya hanya pada lembaran kertas. Padahal ada banyak bentuk kecerdasan yang harusnya mendapatkan penghargaan yang baik, sehingga bisa diarahkan untuk masa depan. Apa saja itu?

Kecerdasan Mencari Teman

Apakah kita sering mendapati anak yang tidak begitu menonjol pada pelajaran sekolah, tapi memiliki banyak teman? Meski banyaknya teman tidak selalu dalam aspek positif, kadang juga negatif, seperti seringnya tawuran dan sebagainya. Tak sedikit yang kemudian menyebut anak semacam ini hanya gerombolan yang tidak berguna. Padahal ada aspek lain yang sangat baik bila diarahkan.

Jika anak pandai mencari teman, berarti ia memiliki kecerdasan sosial yang tinggi. Sayangnya karena kecerdasan sosial ini tidak diarahkan dengan baik, sehingga difungsikan untuk hal-hal yang kurang produktif. Kecerdasan sosial menunjukkan kemampuan menjalin relasi. Kamampuan seperti ini sangat dibutuhkan dalam bisnis atau terjun dalam dunia politik.

Mahir Olahraga

Kecerdasan ini sebenarnya sudah mendapatkan tempat, terbukti semakin banyaknya event olahraga. Namun kemampuan olahraga biasanya hanya dijadikan keterampilan sampingan, bahkan jika mendekati ujian kelulusan, anak yang memiliki kemampuan dibidang ini, sering kali diminta untuk break beberapa saat, karena pelajaran sekolah lebih penting.

Pemikiran semacam ini membuat tak sedikit dari mereka yang pada akhirnya masuk berkarir dalam bidang olahraga, tidak menemukan makna yang kuat, karena menganggap kemampuan olahraga adalah keterampilan kedua. Hanya beberapa dari mereka yang benar-benar menghayati kemampuan olahraganya, sehingga menjadi juara karena mereka menemukan makna secara total pada bidang mereka, bukan karena terpaksa.

Jika sejak sekolah sudah ditanamkan bahwa keterampilan apapun, jika dihayati dengan baik, akan memunculkan kebanggaan tersediri, maka betapa bangsa ini akan banyak memanen atlet-atlet handal yang memang sudah menemukan makna sejak dini, bukan karena merasa tersingkir dari kelas sehingga masuk dunia olahraga. Bahwa mereka harus yakin jika keduanya tidak ada yang lebih unggul, alias setara.

Kecerdasan Seni

Sama dengan olahraga, kemampuan seni juga dianggap keterampilan tambahan. Bahkan jika orang tua diminta memilih, apakah ingin memiliki anak yang unggul di kelas atau unggul di kesenian, banyak yang menjawab, kalau bisa unggul di kelas terlebih dahulu. Namun seni dan intelektualisme bukanlah dua hal yang terpisah sama sekali.

Yang menjadi soal adalah bagaimana sekolah dan pemerintah secara umum tidak begitu memberikan ruang apresiasi terhadap bidang ini. Di sekolah saja, pelajaran seni tak lebih dari dua jam pelajaran, sisanya diikutkan ekstrakurikuler atau mengikuti kursus di luar sekolah. Seringkali siswa yang mewakili sebuah kontes seni, justru mahir bukan dari sekolah tersebut, melainkan dari luar sekolah. Hanya kebetulan ia siswa sekolah tersebut, sehingga diminta mewakili. (psikologi.my.id)
loading...

Post a Comment

0 Comments