Kenapa Orang Kaya Justru Tidak Mau Pamer?

loading...



Pernahkah anda membaca atau melihat kesederhanaan para Co. Perusahaan besar dunia? Seperti misalkan pemilik facebook dan Microsoft, yang kekayaannya bahkan nyaris setara dengan APBN sebuah negara? Tapi dalam kesehariannya, hidup mereka begitu sederhana, bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia memiliki kekayaan bejibun. Bahkan asesoris dan pakaiannya pun terbilang biasa.

Sementara sebaliknya, orang yang baru punya penghasilan tinggi, menunjukkan kepada kalayak bahwa ia orang kaya, rumah, mobil, asesoris, sampai transaksi bank mereka tunjukkan ke publik untuk menunjukkan diri bahwa ia orang kaya. Kenapa bisa demikian?

Dalam keseharian, kita juga bisa mendapati orang yang kita tahu sangat kaya, namun memiliki gaya hidup sederhana. Kesederhanaannya bukan karena kekurangan harta, tapi lebih sebagai gaya hidup. Sementara mereka yang baru mengalami keterbalikan hidup, misal yang awalnya bergaji rendah kemudian naik beberapa kali lipat, langsung menunjukkan perubahan drastis. Padahal kekayaannya tak ada 10 persen dari orang yang hidup sederhana tadi.

Bahkan ada yang sebenarnya hidup dalam kekurangan, rela behutang demi menunjukkan gengsinya. Sehingga ia didera banyak masalah hidup yang berkaitan dengan materi. Gejala semacam ini makin sering kita temukan di era sekarang ini, dimana gejala narsisme begitu kuat mengakar.

Dalam dunia psikologi, keinginan untuk tampil menonjol memang selalu ada. Narsis, ingin mendapat pengakuan dan sejenisnya. Ini tidak hanya soal harta, namun juga soal pangkat, jabatan, pengaruh, sampai segi keilmuan. Maka banyak yang memplagiasi karya orang lain agar ia nampak cerdas, meski jika ketahuan justru bisa menghancurkan reputasinya.

Menariknya, ketika orang yang benar-benar sudah mencecapi makna kekayaan yang sesungguhnya, justru ia akan mengalami keterbalikan hidup. Seperti misalkan, pengusaha yang omzetnya miliaran rupiah, segala kebutuhan hidup yang bersifat materi bisa ia penuhi, sampai pada titik kesadaran bahwa keinginan manusia tidak ada habisnya, bahkan ia menyadari bahwa kepuasaan sesungguhnya bukan berkaitan dengan materi.

Ia akan memiliki makna tersendiri mengenai harta, yang bisa datang dan hilang, apalagi bagi mereka yang mengelola bisnis besar, dana ratusan bahkan miliaran rupiah tidak akan lama tersimpan di rekening karena harus diputar untuk membesarkan usahanya. Justru pada akhirnya, kepuasaan yang ia dapat bukanlah dari pendapatan yang ia dapat, melainkan dari kesanggupannya mempekerjakan orang, atau menolong orang lain.

Kepuasan inilah yang muncul, sehingga pamer harta dan kekayaan baginya sudah tidak penting lagi. Ia tidak butuh lagi pengakuan sebagai orang kaya, yang terpenting bagaimana ia bisa menjalani hidup dengan damai, tenang, dan salah satunya adalah dengan bergaya hidup sederhana.

Psikologi.my.id
loading...

Post a Comment

0 Comments