Pacar Perempuan untuk BF-ku

loading...


Bagian 2

Namun sepandai-pandainya kami menyimpan rahasia, akhirnya itu diketahui oleh Ibu Edo. Insting Ibu memang sangat kuat. Namun Ibu Edo sudah berjanji untuk tidak mengatakan ini pada ayah Edo, namun dengan syarat aku harus membantu keinginan Ibu Edo.

"Dia hanya merasa nyaman saja, kalau dia mengenal sosok perempuan, dia akan berubah, kamu bantu tante ya?"

Aku hanya mengangguk pelan. Meskipun ada gejolak. Di satu sisi ingin menolaknya, namun di sisi lain tak tega karena kebaikan tante selama ini. Apalagi, secara logika, apa yang diucapkan tante tidak salah.

Idealnya, laki-laki memang berpasangan dengan perempuan, seperti ayah dan ibu kita masing-masing.

Namun siapa perempuan itu? Apa aku harus mencarikan sosok perempuan untuk Edo?

Ternyata, tante sudah mendekatkan Edo dengan Crisida. Crisida adalah teman SMP Edo, yang juga akrab dengan Ibu Edo. Crisida kuliah di kampus yang sama dengan kami, hanya beda jurusan.

Tiap akhir pekan, selalu ada Crisida di antara kami. Tante pun sering meminta Edo mengantarkannya pulang.

"Sorry ya Ki, kamu gak keganggu kan ada Crisida?  Dia memang akrab banget sama nyokap," Ucap Edo, saat kami merebahkan tubuh di ranjang.

Edo memelukku, namun aku menolaknya dengan halus.

"Gerah ah," tukasku, pura-pura.

Aku tak bisa membayangkan sampai kapan suasana ini akan terjadi, jika akhirnya Edo dan Crisida menjadi dekat seperti permintaan Ibunya. Apakah aku akan baik-baik saja? Apakah perasaanku akan biasa saja?

Oh tidak! ini seperti bunuh diri, perlahan aku tengah menyiksa batinku sendiri.

-00-

"Kamu akhir-akhir ini kok aneh sih?" tanya Edo padaku.

"Aneh gimana?"

"Sikap kamu beda."

"Biasa aja."

Aku pun pergi meninggalkan Edo, lalu menuju kantin kampus dan ikut bergumul nongkrong dengan teman-teman sekelas.

Sudah dua hari ini, hubunganku dan Edo agak dingin. Edo pun sepertinya menangkap keanehan dalam diriku, lagipula aku bukan aktor yang baik untuk drama seperti ini.

"Jujur aja, kamu kenapa?" tanya Edo.

"Apaan sih."

"Jujur, Ki. Kamu aneh," Edo agak membentak.

"Aku bosan!" Jawabku dengan nada yang meninggi.

Kami berdua terdiam sejenak.

"Aku bosan sama kamu Do, aku rasa udah bosan... bosan aja," Lanjutku.

Edo terkesiap, raut mukanya menunjukkan keterkejutan yang sangat.

"Bosan?"

"Ya, aku bosan, capek jadi homo, sembunyi-sembunyi. Aku ingin kalau pacaran itu kayak lainnya, bosan capek!"

"Jadi kamu ingin yang lainnya tahu?"

"Gak. Udahlah!"

Lalu aku pergi meninggalkan Edo.

-00-

Sudah dua pekan ini aku tak ke rumah Edo, biasanya rutin. Namun kadang kulirik dari kejauhan, Edo makin akrab dengan Crisida. Bahkan, biasanya aku yang diantar pulang, kini beberapa kali Crisida yang diantar.

loading...
Namun kenapa aku cemburu? Ini semua terjadi kan karena sikapku sendiri, bukan Edo yang memulai. Aku yang menjauhi Edo biar dia makin akrab dengan Crisida. Kenapa aku cemburu?

Semalaman aku pun menangis. Ternyata aku tak bisa menyembunyikan perasaan ini. Aku masih sayang Edo, aku cemburu,aku sedih, bingung, semua jadi satu.

Namun kata-kata Ibunya terus terngiang. Sampai akhirnya sebuah pesan masuk ke ponselku.

"Terima kasih ya atas pengertiannya, Edo sudah mulai akrab dan bahagia dengan Crisida, ini lebih baik untuknya. Thaks."

Ternyata itu pesan dari Ibunya Edo.

Aku tahu diri, secara halus sebenarnya Ibu Edo ingin aku menjauhi anaknya. Sungguh ibu yang sangat profesional.

Sekarang aku berada dalam keadaan yang serba sulit. Mau ke rumah Edo, jelas akan sangat sungkan dengan ibunya, di sisi lain hubunganku dengan Edo juga mulai renggang. Meski Edo berulang kali menghubungiku dan mencoba menemuiku.

"Ki, denger dulu kita harus bicara," Ucap Edo saat berhasil menemuiku di belakang kantin kampus.

"Do, kita putus. Jangan lagi hubungi aku!" Tegasku, yang membuatnya berdiri mematung agak lama.

-00-

Malam harinya, sebuah pesan dari Ibunya kembali mendarat ke ponselku.

"Terima kasih sudah memutuskan Edo. Itu pilihan terbaik, meski Edo tampak murung dan bersedih, namun itu hanya soal waktu saja, dia akan kembali menjalani kehidupannya yang normal. Semoga kamu sukses nak, thaks dan maafin tante."

Aku menangis tak tertahan. Rasanya pedih dan sakit sekali hati ini. Dunia seolah runtuh. Namun mungkin ini memang pilihan terbaik, meski sakit. Aku juga harus berubah. Jujur saja, pengalaman ini membuatku traumatik.

Segala kenangan indah dengan Edo terbayang. Jujur aku masih sayang. Tak ada alasan sebenarnya untuk tidak lagi menyayanginya, tetapi keadaan ini sungguh membingungkan.

-00-

Dua tahun selepas wisuda kelulusan, sebuah undangan pernikahan datang. Edo menikah dengan Crisida.

"Datang ya pada moment spesial kami," Ucap Crisida.

Remuk rasanya melihat kenyataan pahit ini.

Selesai
loading...
loading...

Post a Comment

0 Comments