Pacar Perempuan untuk BF-ku

loading...


Bagian 1

Kedekatanku dengan Edo mungkin sudah dicurigai oleh kedua orang tuanya, namun mereka tetap ramah kepadaku, tiap kali aku ke rumah Edo. Sangat sering aku ke rumah Edo, karena Edo adalah BF-ku. Kami sudah bersama sejak dua tahun ini, sejak kami kelas XII SMA dan akhirnya kuliah di tempat yang sama.

Aku juga sering menginap di rumah Edo, bahkan seminggu sekali tiap akhir pekan. Kedekatan kami tentu sudah tidak diragukan lagi.

Saat itu, aku dan Edo baru saja pulang. Ibu Edo menyambut kami, lalu dia minta Edo membelikan beberapa kebutuhan di sebuah toko yang berjarak sekitar 2 kilometer dari rumah.

Saat Edo sedang keluar, Ibu Edo mendekatiku, dan disitulah perbincangan ini dimulai.

"Kalian lebih dari sekadar teman, ya?" tanya Ibu Edo dengan nada lembut.

"Maksudnya gimana tante?" tanyaku balik, dengan perasaan tak enak.

"Tante lihat kalian sangat akrab."

Aku tak bisa menjawab, selain hanya tersenyum getir. Lalu, dengan lembut tanganku dipegangnya. Ibu Edo memang sosok yang sangat ramah dan lembut. Bahkan aku dianggapnya seperti anak sendiri.

"Kalian pacaran kan?"

Aku sangat terkejut, dadaku berdegup sangat kencang mendengar Ibu Edo menanyakan hal itu. Dengan tergeragap aku menjawabnya, namun di hadapan Ibunya, sepertinya percuma aku berbohong.

"Tenang. Ibu tidak marah,” lanjutnya menenangkanku, sambil membelai punggungku." Edo itu anak semata wayang kami,” lanjutnya.

"Ma...af, tante," Ucapku.

Ibu Edo yang biasa kupanggil tante  itu tetap tersenyum tenang.

"Kalian pasti saling sayang, ya?"

Aku hanya bisa menunduk. Antara bingung dan malu, semua campur aduk.

"Kalian tak perlu berpisah, tante ngerti."

Akupun terkejut, dan terbengong menatap ke raut wajah tante yang sangat tenang, meski terlihat ada bening air menepi di matanya.

"Tapi maukah kamu bantu tante?" Pintanya.

loading...
"Bantu apa tante?"

"Kalau kamu sayang sama Edo, bantu Edo kembali ke jalan yang benar, kamu tentu paham kan? bahwa tak mungkin kalian bisa bersama."

Aku tertunduk lesu. Meski terdengar lemah lembut, namun kalimat itu sangat menusuk hatiku.

"Kamu tak harus berpisah sama Edo, semuanya tetap biasa saja, kok. Tante juga tak ingin memarahi Edo, tante sangat sayang dia, dia anak semata wayang tante."

Tante membelai-belai rambutku dengan penuh kasih sayang.

"Kamu tampan, Ki. Orang tuamu pasti sayang dan bangga sama kamu," Pungkasnya lalu meninggalkanku sendiri di ruang tengah.

-00-

Ucapan Ibu Edo membuatku tak bisa tidur semalaman. Apakah aku harus menjauhi Edo? Ah, aku makin bingung. Apalagi ibunya juga tak memintaku menjauhi Edo, benar-benar tak seperti yang aku pikirkan. Ibunya sangat lembut dan baik padaku, tentu akupun tak tega hati.

-00-

Aku kenal Edo saat kami satu kelas di SMA, dan tempat duduk kami dijadikan satu. Setahun pertama, aku dan Edo seperti teman pada umumnya. Kami hanya sering belajar bareng di rumah Edo, dan Ibunya selalu menyambutku dengan hangat.

Edo adalah anak tunggal, sehingga sangat senang ketika anak tunggalnya itu punya teman. Menurut Ibunya juga, Edo jadi lebih rajin dan nilainya lebih baik sejak naik kelas XI.

"Mungkin karena sering belajar bareng sama kamu ya?"

Tak terasa kami merasa nyaman, meski tak pernah terpikir bahwa kami akan jadi pasangan kekasih. Sampai akhirnya Edo bilang kalau dia suka sama aku.

"Gilak. Aku kan cowok?" Kilahku.

"Ya terus kenapa?"

Sejak saat itu, ada perasan aneh. Aku pun tak langsung menjawab. Baru dua hari kemudian, aku merasa jika rasa nyaman itu memang sangat kuat. Akhirnya aku pun menerimanya. Kami resmi menjadi pasangan kekasih, boyfriend atau BF.

Namun tak ada yang tahu jika kami pacaran, karena akan jadi masalah tersendiri kalau sampai teman satu kelas tahu, apalagi sekolah, dan lebih-lebih keluarga..

Lanjut ke bagian 2
loading...
loading...

Post a Comment

0 Comments