Seni untuk Tidak Terlalu Berharap

loading...


Manusia pasti punya harapan. Harapan itulah yang barangkali membuatnya lebih bersemangat dalam hidup. Harapan itulah yang membuatnya yakin bahwa ada hal baik yang akan terjadi di masa depan.

Namun, bagaimana jika harapan itu meleset? Sedih, kecewa, stres, depresi dan merasa hidup tak lagi ada gunanya, karena tak ada lagi harapan.

Punya harapan dan berharap adalah suatu yang manusiawi. Meski harapan sangat bersisian dengan rasa kecewa. Rasa kecewa bisa membawa seseorang pada suasana sedih, marah, bahkan depresi.

Maka harapan itu perlu dikelola dengan penuh kesadaran, serta harus memahami batas-batas harapan itu sendiri. Artinya, ada seni untuk berharap dan tak terlalu berharap.

Epictetus, dalam mazhab Stoisme pernah berkata demikian : ada hal-hal yang berada dalam kendali kita, serta ada hal-hal yang tidak berada dalam kendali kita.

Artinya tidak semua hal bisa kita kendalikan, bukan? Namun sadarkah kita bahwa seringkali kita menyematkan harapan pada sesuatu yang tidak berada dalam kendali kita. Misalnya, kita sering berharap pada orang lain.

Mengharapkan seseorang, terutama kekasih, untuk memberikan rasa bahagia. Kita berpikir bahwa kebahagiaan kita sangat bergantung dengan sikap kekasih kita. Mengharapkan dia selalu ada, perhatian dan setia.

Kita berharap bahwa orang tua kita memiliki sikap A, B, dan C. Begitupun dengan teman, kakak, sahabat, tetangga dan sebagainya. Padahal, harapan itu jelas diluar kendali kita.

loading...
Tidak selayaknya kita terlalu berharap pada apa yang diluar kendali kita. Maka, Epictetus menjelaskan, ketika harapan itu tidak terwujud, sebenarnya bukan “obyek harapan” itu yang salah, namun kita kecewa karena memiliki penilaian, bahkan judge pada obyek yang kita harapkan.

Padahal jelas dia diluar dari kendali kita. ketika dia bersikap berbeda dengan apa yang kamu inginkan, nyatanya dia adalah dia, dan kamu tidak bisa mengendalikan dia karena kamu hanya bisa mengendalikan dirimu sendiri dan cara pandangmu sendiri.

Maka jangan terlalu berharap lebih. Malah jika perlu berpikirlah sebaliknya, atau ketika berharap pikirkanlah kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi, sehingga ketika kemungkinan buruk itu benar terjadi, kamu tidak terlalu kecewa. Bahkan bisa bersikap biasa saja, dan berkata lirih, sudah kuduga.

Di sinilah seni untuk tidak terlalu berharap itu kita jalankan. Bukan berarti kita tak boleh berharap, melainkan berharaplah sembari memikirkan kemungkinan lain yang terjadi. Artinya, kita belajar memikirkan dua kemungkinan yang terjadi ; positif dan negatif.

Ini berbeda dengan berpikir negatif. Sebab ketika yang terwujud adalah pikiran positif, atau yang terjadi adalah sesuatu yang kita harapkan, maka kebahagiaan tentu akan kita dapatkan.

Kita hanya bisa berharap pada diri sendiri, pada apa yang bisa kita kendalikan. Salah satunya cara pandang kita. kita mungkin bisa merubah cara pandang orang lain dengan beragam cara, namun jangan begitu berharap. Satu-satunya yang bisa kamu rubah cara pandangnya ya dirimu sendiri.

Minimal kamu merubah cara pandangmu terhadap orang tersebut, terhadap suatu peristiwa hidup yang kamu alami. Seni menaik turunkan pikiran, menerima kemungkinan apapun yang terjadi dalam hidup.

Inilah hal yang diajarkan Epictetus dalam filsafat stoisme. Bagaimana menurutmu? Yuk bagikan lewat kolom komentar di bawah ini.

loading...

Post a Comment

0 Comments