Bisakah Hidup tanpa Merokok?

loading...



Merokok mungkin bagian dari kebutuhan tambahan/komplementer, namun bagi seorang perokok berat, merokok adalah kebutuhan pokok.

Dalam tulisan ini kita tidak akan membahas kandungan rokok, namun lebih kepada alasan psikis kenapa sih harus merokok? Bisakah jika hidup tanpa merokok?

Kenapa anda merokok?

Beberapa jawaban yang kami temukan antara lain, merokok sebagai pengiring pekerjaan. Ya, hal itu memang sering kita temui, baik di kalangan pekerja kasar atau seniman.

Merokok bisa memberikan stimulus ide atau memberikan "ketahanan fisik" serta mood. Ini soal rasa, jadi teori kesehatan yang hanya bersifat pengetahuan tak dapat menggeser rasa dan dampak dari setiap hisapan rokok.

Artinya, apakah merokok adalah bagian dari upaya untuk meningkatkan produktifitas dalam pekerjaan? Apakah dengan merokok kerja mereka semakin baik yang berdampak pada peningkatan pendapatan?

Pikiran lebih tenang

Rokok tidak mengenal tingkat ekonomi, mereka yang hidup dalam garis ekonomi menengah ke bawah pun juga banyak yang jadi perokok.

Dalam pergaulan, rokok menjadi simbol keakraban. Para perokok hampir tidak ada yang pelit berbagi rokok, meski ia tahu satu batang rokok bernilai rupiah. Sehingga para perokok satu dan lainnya saling terhubung lewat kebiasaan mereka merokok.

Rokok memberikan efek nyaman dan tenang pada pikiran, apalagi ketika sedang ada banyak masalah. Meski bersifat sementara, setidaknya untuk "mengganjal" stres.

Agar dibilang cowok tulen

Di kalangan masyarakat tertentu, merokok dianggap cowok tulen. Inilah yang akhirnya menstimulus para remaja laki-laki untuk merokok agar dianggap cowok tulen.

Padahal, rokok tidak bergender. Namun jika melihat prosentase, lebih banyak perokok laki-laki ketimbang perempuan, perokok perempuan di sebagian masyarakat dianggap aneh atau tidak wajar.

Konsep merokok agar dianggap cowok tulen ini membuat para remaja memutuskan merokok tanpa orientasi yang jelas, untuk apa? Hanya sekadar tren yang akhirnya menikmatinya sebagai habit baru.

Tidak ingin anaknya merokok

Uniknya, seorang ayah perokok pun sebagian besar tidak ingin anaknya menjadi perokok. Pikiran ideal itu direfleksikan dari pengalaman pribadinya.

Sebagian orang tua lebih permisif, membolehkan merokok selama bisa membeli sendiri alias sudah bekerja.

Kontradiksi dengan yang bukan perokok

Meski antar perokok terjalin solidaritas yang tinggi, khususnya dalam hal berbagi rokok, namun kontradiksi terjadi dengan mereka yang tidak merokok.

Mereka cenderung terganggu dengan asap rokok, sementara para perokok berharap mereka yang tidak merokok lebih toleran dan memahami para perokok.

Namun toleransi tidak bisa berjalan jika salah satu merasa dirugikan, apalagi konon perokok pasif lebih berbahaya. Tidak menikmati rokoknya, namun kena dampak buruknya.

Tanpa rokok, ada yang ganjil

Meski merokok memberikan dampak lebih tenang atau lebih produktif, namun ketika tidak ada rokok rasanya hambar, ada yang ganjil, bahkan kadang bikin hidup kurang bergairah.

Mereka para perokok aktif yang tingkat ekonominya rendah, seringkali dihadapkan pada hal ini. Tidak bisa merokok karena tidak ada uang untuk membeli rokok.

Merokok memang memberikan suatu efek nyaman, namun disatu sisi ia juga mengikat, mrnciptakan ketergantungan, yang itu membuatnya harus tetap merokok dan terus merokok.

Bisakah jika tidak merokok?

Pertanyaan ini sulit dijawab oleh para perokok. Bahkan kadang mereka justru melempar balik, kenapa harus tidak merokok?

Untuk hidup, manusia lebih membutuhkan makan dan minum, ketimbang rokok. Rokok tidak masuk dalam list gizi yang harus dipenuhi oleh tubuh.

Namun dalam usia tertentu, rokok dibutuhkan agar hidup lebih hidup, tuntutan sosial dan kompleksitas hidup membuat rokok jadi bagian penting untuk mengurainya.

Jadi, sekali lagi buat para perokok, bisakah jika mulai sekarang berhenti merokok?

Ditulis : Felissa, Adrian
loading...

Post a Comment

0 Comments