Saat Ibu tahu jika aku seorang uke

loading...



Peringatan hari Ibu tahun ini mungkin sangat menyedihkan bagiku, seminggu sebelum tanggal 22 Desember ibu membersihkan kamarku dan menemukan dildo.

Sepulang kuliah, kulihat ibu duduk di ruang tengah menonton televisi. Seperti biasa dia menyambutku dengan senyum tulusnya.

Saat aku masuk kamar, kulihat dildo itu sudah tergeletak di atas meja belajar beserta pelumas/lubricant oil fiesta.

Tiba-tiba aku panik. Semalam karena saking sangenya aku self-fun di atas ranjang. Setelah klimaks aku capek banget dan menggeser dildo itu di bawah ranjang, dan lekas tertidur.

Biasanya setelah self fun aku langsung cuci dildo itu dan menyimpannya di tempat khusus.

Karena besoknya ada jam pagi, aku bergegas ke kampus dan tak terpikir sama sekali tentang dildo itu, padahal aku tahu jika setiap pagi ibu rutin membersihkan kamar tidurku.

"Reza, cepet makan," pinta ibu.

Entah kenapa terbersit perasaan malu pada ibu. Ibu pasti menemukan dildo itu di bawah ranjang dan lalu menaruhnya di atas meja.

Namun tak ada sepatah katapun terucap dari mulut ibu soal dildo itu, apakah ibu berpikir kenapa anak lelakinya menyimpan penis buatan seperti itu? Duh.

##

Di meja makan, seperti biasa ibu menanyakan soal materi kuliahku hari ini, tapi ada kalimat lain yang membuatku gusar.

loading...
"Ternyata feeling ibu selama ini benar ya?"

Tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat.

"Galih si cowok tampan itu jarang kesini lagi ya?" lanjutnya.

Perasaanku semakin tak enak. Ibu kemudian beranjak dari kursinya dan tiba-tiba memeluk dan mengusap kelapaku dengan lembut sembari berurai air mata.

##

Aku adalah anak semata wayang di keluarga. Saat hamil, Ibu sangat menginginkan anak perempuan, begitu juga ayah. Namun ternyata lahir laki-laki.

Saat kecil aku sering dikatai cowok cantik, karena bentuk wajahku dan konon aku sedikit melambai.

Beberapa teman bahkan mengataiku banci. Hmm... karena bullyian itu aku dua kali pindah sekolah.

Namun beranjak dewasa, khususnya saat kelas XI SMA, aku mulai menyadari jika aku tertarik sama sesama cowok.

Perasaan itu sering kali kutampik. Aku suka melihat cowok tampan, apalagi yang berbadan atletis.

Saat kuliah aku memakai aplikasi dan mendapat kenalan yang pas, yaitu Galih. Kami pun jadian.

Galih cowok kalem, tampan dan berwajah oriental. Kami beda kampus, namun tiap kali ditanya kenal, aku selalu menjawab kalau kami kenal saat event ajang duta lingkungan di kota kami.

Ibu senang akhirnya aku punya teman dekat, padahal selama ini aku dikenal introver dan individualis.

First kiss ku ya dengan Galih. Di dalam kamar aku sudah berulang kali nyepong penis galih, meski hanya sekali kami making love karena galih lebih sering keluar saat aku belum puas.

Galih sering menginap di rumahku, dan karenanya ibu sudah sangat mengenalnya.

##

"Feeling ibu tak mungkin salah, kan?" ucap ibu sembari membelai rambutku.

Aku menangis manja di pelukannya, aku mengakui semua yang kurasakan selama ini, kalau aku seorang gay.

Ibu juga tak kuasa menahan air matanya. Semarah apapun padaku, ibu tak pernah marah, apalagi sampai memukul fisik.

Ibu memiliki feeling jika aku memang gay, apalagi kedekatanku dengan galih, itu sangat jelas tergambar.

"Kamu terlihat bahagia saat bersama galih, ibu tau itu," lanjutnya.

Aku merasa bersalah, tapi disisi lain juga tak bisa memungkiri perasaanku.

##

Selamat hari Ibu

Aku membawakan sebungkus martabak kesukaan ibu. Ibu sangat menyukai martabak dekat stasiun itu.

Bagaimanapun, aku sangat menyayangi ibu, dan tak ingin dia bersedih.

"Buk, apa ayah sudah tau?" bisikku.

Ibu menggelengkan kepala.

Tiba-tiba, aku ingin mengulang semuanya dari awal demi Ibu, aku ingin menjadi anak lelaki ibu yang memberikannya cucu.

Entah, apa aku bisa melakukannya, meski sejauh ini aku nyaris tak ada ketertarikan secara seksual kepada cewek.

loading...

Post a Comment

0 Comments