Tunanganku ternyata cowok pelangi

loading...

By Tami

Agak lama Renald melihat fotoku dengan tunanganku saat kami berlibur ke Jogja, raut mukanya membuatku bertanya-tanya.

"Ada yang salah?"

Renald terkesiap, ia melempar senyum getir padaku.

"Itu tunanganku, namanya Jefrin," lanjutku.

Renald hanya mengangguk pelan, lalu mengambil jus apelnya. Gelagatnya penuh tanya.

##

Aku dan Jefrin memang dijodohkan oleh keluarga besar. Keluarga kami punya ikatan kuat dalam bidang bisnis.

Pertama kali bertemu, aku melihat Jefrin sebagai cowok metrosensual dengan badan atletis, dia juga tampan.

Saat kami duduk berdua di taman belakang, Jefrin tampak kikuk, aku menduga dia tipe cowok rumahan dan anak manja. Bukan badboy seperti perkiraanku.

Justru itulah yang membuatku memutuskan untuk mau bertunangan dengannya. Menurutku dia tipe cowok baik-baik yang cupu, meski penampilannya flamboyan.

Anehnya, Jefrin sangat irit bicara, dia pasif sekali sebagai cowok.

"Kamu nggak suka sama aku ya?" tanyaku memastikan.

"Bu...bukan gitu, gue masih grogi aja sama cewek cantik kayak kamu," jawabnya.

###

loading...
Kami pun mengatur liburan berdua ke Jogja, kami menyewa sebuah villa di Kaliurang, yang sudah langganan keluarga kami.

Di villa itu, hanya ada aku dan Jefrin. Selain jalan-jalan kayak umumnya pasangan kekasih, di villa kerjaan Jefrin hanya main game.

Padahal aku berharap ada something romantis, sekaligus meyakinkan diriku bahwa cowok itulah yang nanti akan menikahiku.

Saat dia tengah main game di ruang tengah, sengaja aku lewat hanya mengenakan kimono transparan dengan hanya mengenakan BH dan celana dalam.

Jefrin sesekali melirikku, tapi sebatas itu aja, ia lalu kembali main games.

Aku jadi geregetan, lalu kudekati dia dan duduk di pangkuannya, aku tarik tangannya dan kuarahkan ke dadaku.

Kami hanya saling menatap.

"Aku sudah hampir telanjang dan kamu cuma sibuk main games," protesku.

Aku pegang penis dari balik celana chinosnya.

"Kamu nggak ngaceng ya?"

Jefrin menggelengkan kepala.

Tiba-tiba moodku rusak. Aku memutuskan kembali ke kamar dan tidur.

###

"Kenapa ekspresimu kemaren kayak gitu pas lihat tunanganku?" desakku ke Renald.

Dia tampak terkejut dan tersudut.

"Enggak kok," jawabnya.

"Please kasih tau apa yang kamu tahu soal dia," desakku.

Renald adalah teman kuliahku, meski di perusahaan dia salah satu staf bawahanku, tapi aku tetap memperlakukannya sebagai teman.

"Oke, mi ayo ikut aku," jelasnya.

Di pojok kafetaria Renald mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah akun di aplikasi cowok pelangi.

Aku sudah tau kalau Renald belok sejak lama, tapi bagiku itu privasi dia dan tak pernah tertarik buat ngulik.

"Whatsss!"

Jefrin ternyata punya akun di aplikasi itu, apa berarti Jefrin cowok pelangi?

"Tapi dia itu manly banget, atletis, gak kayak kamu," protesku ke Renald.

"Gak menjamin juga mi," jawabnya.

###

Setelah tahu jika Jefrin belok, aku gak langsung konfrontasi dia, aku jalanin semua kayak biasa aja, aku jaga perasaan kedua keluarga besar, meski pelan-pelan aku nurunin ekspektasi.

Karena ini bukan hanya soal kisah asmara kami, atau orientasi seksual si Jefrin, tapi juga urusan bisnis dan keluarga.

Tapi apa mungkin aku bisa bahagia sama Jefrin? Sebagai perempuan aku juga ingin dimanja, diperhatikan dan bahkan disentuh bagian sensitif, dan itu nggak kudapat dari Jefrin.

###

"Pliss bantu aku."

"Nggak berani aku mi, itu anak bos."

Aku meminta bantuan Renald untuk menghubungi Jefrin di aplikasi itu, sebenarnya hanya ingin menjawab perasaanku.

"Aman deh, aku yang jamin."

Aku meminjan hp Renald untuk menghubungi Jefrin. Dia meresponnya meski agak lama.

"Hah bottom," sahut Renald.

"Apa itu artinya?" tanyaku.

"Bottom itu, hmm.. Ya pas hubungan intim gitu jadi ceweknya," jelas Renald.

Apa... Hampir kubanting ponsel Renald, saking geregetan. Pantesan aja selama ini dia slow response banget sama aku. Ternyata tunanganku cowok pelangi.

Lalu, sebaiknya aku harus gimana?
loading...

Post a Comment

0 Comments