Cowok yang enak dipegang-pegang

loading...



Akhirnya aku boleh memegang tubuh Arhan yang atletis, dia membuka kaosnya, tampak dada bidang dan perut sixpack serta lengan berotot yang kokoh.

Aku tiduran sambil memegangi lengannya, membelai dada dan menyentuh otot-otot perutnya. Entah kenapa aku senang banget.

"Udah, puas?" tanyanya.

"Belom," jawabku sambil menarik tubuhnya ke bawah, aku masih ingin memeluknya.

-00-

Memasuki semester IV perkuliahan, aku satu kelas dengan Arhan, dia anak UKM bela diri dan suka ngegym.

Arhan emang terkenal karena followersnya banyak. Di instagram dia sering pamer foto-foto shirtlessnya yang atletis, ditopang wajahnya yang cakep.

Dia jadi perbincangan teman-teman jurusan, terutama kaum hawa. Tapi aku pun diam-diam juga sering lihat fotonya, bahkan beberapa aku simpan di galeri, buat bahan coli.

Tak jarang aku coli sambil liatin foto-foto shirtless Arhan, beda aja fellnya karena Arhan adalah orang yang kukenal di dunia nyata, bukan selebgram yang jauh dari jangkauan.

Sebagian foto aku pindah ke laptop, sebatas koleksi. Apalagi Arhan sering menghapus foto-foto di instagramnya, misal sekarang dia posting, besok atau lusa bisa dia hapus.

-00-

Pada satu mata kuliah, aku dapat couple grup sama Arhan. Ini seperti mimpi aja, batinku.

Satu grup hanya 2 orang, karena ini long riset selama 6 bulan alias satu semester.

"Minta bantuannya ya, gue rada gak paham ni soal beginian," ucapnya.

Hmm.. Emang bener ya, cowok yang fokus ke otot biasanya otaknya gak terlalu main, hehe.. Canda.

Kami pun ngatur jadwal ketemu buat nyusun konsep, dan Arhan nawarin di kosannya aja. Lagian kan kami sesama cowok.

Pertama kalinya juga aku berkunjung ke kamar kos Arhan, kamarnya lumayan rapi dan itu gak sesuai sama pikiranku sebelumnya. Ada poster-poster atlet yang ia tempel di kamarnya.

Kami diskusi soal konsep, dan kayak biasanya kalau udah nyangkut kuliah, aku bakal fokus banget sambil sesekali membalas pesan-pesan yang masuk ke whatsapp.

Sampai gak sadar kalau diem-diem Arhan ngamatin dan dia tahu kalau aku ngasih nama dia "Arhan manis" di ponselku.

"Arhan manis?" celetuknya.

Aku terperangah, langsung aku masukin ponsel ke saku dengan wajah malu-malu.

Kulihat Arhan senyum senyum menggoda. Njir, ceroboh banget.

"Gua manis ya?" candanya.

Aku malu banget tauk.

-00-

Pagi-pagi banget aku buka instagram dan gak kusangka Arhan follow IGku, dia juga like beberapa foto postinganku.

Entah kenapa hatiku berbunga-bunga, lalu aku follback. Btw, meskipun sering ngintipin IGnya, aku belum follow si Arhan.

loading...
Aku amati, Arhan hanya follow sekitar 300 akun dari sekitar 9rb an followernya, dan salah satu dari 300 itu aku.

Kuamati teman satu jurusan kami, hanya 2 yang dia follow, selain aku ada Melia.

-00-

Aku udah ganti nama Arhan di hapeku, kata manisnya aku hilangi terus aku ganti jurusan.

Tapi lagi-lagi karena kecerobohanku, dia nemu foto-foto shirtlessnya di file dokumen laptopku yang belum tak pindah.

Kali ini aku seperti kehilangan muka di depan Arhan, tapi anehnya dia tampak santai aja. Dia cuma senyum-senyum aja.

"Ntar malem nginep sini aja ya, sesekali," pintanya.

-00-

Aku tak bisa tidur, perasaan grogi dan degdegan campur jadi satu, tahu gini aku pulang aja.

Tapi tiba-tiba Arhan buka kaos, katanya gerah, lalu dia geser lebih dekat posisinya.

"Kenapa belum tidur?" tanyanya, "kamu boti ya?" lanjutnya.

Aku pun kaget mendengarnya, tapi kulihat Arhan tersenyum sambil mata terpejam seolah lagi tidur.

Mungkin aku aja yang terlalu polos, padahal Arhan udah tau semua dan sepertinya dia juga akrab dengan dunia pelangi.

-00-

"Udah gitu aja?"

Aku hanya tersenyum malu, akhirnya aku bisa memegang sudut-sudut tubuh Arhan langsung saat dia shirtless. Tapi aku masih takut untuk lebih.

Sampai Arhan ngarahin tanganku buat nyentuh penisnya yang masih tertutup boxer.

"Enggak ah han," tampikku.

Aku masih takut, tapi Arhan ngerti, lalu dia berdiri dan membuka jendela, dia melakukan peregangan.

Hmm... Tak hanya di foto saja, aslinya badan Arhan emang bagus, ototnya kebentuk, porsinya pas, enak dipegang-pegang.

By Tama

loading...

Post a Comment

0 Comments