Gay yang menikahi perempuan dan memendam perasaannya sendiri

loading...



Aku menyadari kalau suka sesama jenis itu sejak SMA, awalnya cuma suka aja ngeliat cowok ganteng, terutama teman sekolah.

Tapi saat itu aku juga punya pacar cewek, sebenernya lebih sebagai image biar gak dikira homo dan laku sebagai cowok.

Aku beruntung karena terlahir dengan gesture kayak cowok pada umumnya, gak ngondek atau berperilaku yang mengundang reaksi orang seperti suka berdandan dlsb.

Jadi meski aku suka melihat cowok ganteng, alias gay tapi semua orang percaya kalau aku straight atau cowok normal pada umumnya.

Masuk kuliah, perasaan itu makin menggebu, aku gak cuma tertarik sama kegantengan cowok, tapi udah mulai berpikir lebih dalem.

Mungkin itu faktor perkembangan kedewasaan, aku mulai punya sexual interest, mulai menyukai cowok secara seksual dan ada pikiran untuk berhubungan seksual dengannya.

Tapi perasaan itu lekas aku tampik, jujur saja aku mulai ada rasa takut dengan pikiran dan perasaanku sendiri. Aku kenapa sih? Sampai aku bertanya pada diriku sendiri.

Untungnya selama kuliah aku sangat sibuk, selain di kelas aku juga ikut beberapa organisasi.

Sexual interest aku lampiaskan dengan gym dan kadang-kadang coli kalau udah gak ketahan.

Aku masih heran kenapa aku punya interest ke sesama cowok, padahal aku gak pernah mengalami trauma di masa kecil, aku juga gak ada gesture kecewek cewekan, aku cowok banget. Ortu didik aku juga keras.

Tapi kenapa aku bisa suka sama cowok? Bukankah itu gak wajar? Apa gay itu sebuah takdir? Entahlah.

-00-

Lulus kuliah aku bekerja di sebuah perusahaan, aku sudah mendapatkan gaji bulanan dan seorang kekasih yang siap kunikahi.

Hari-hari jelang pernikahan, aku merenungi apakah aku benar sayang dia? Lalu bagaimana dengan interestku ke sesama cowok? Apakah akan hilang?

Aku hanya ingin ortuku bahagia, sesuai harapan mereka aku akan menikah di usia 25 tahun.

Tapi aku nyaman dengan kekasihku sekarang ini, lebih ke partner hidup dan jujur saja mungkin sexual interestku ke dia cuma 20% nan aja.

Tapi tekadku bulat untuk menikah dengannya dan menyakin diri bahwa aku cowok straight, cowok normal yang nikah sama cewek.

-00-

loading...
Ini malam pertamaku dengan istriku memutuskan untuk berhubungan seksual.

Kami berciuman mesra, menjelajah sisi leher, dada menonjol dan bagian tubuhnya. Aku gak tau apa yang kurasa, aku cuma mempraktekkan adegan dari video porno yang pernah kutonton.

Lalu istriku memegang penisku dan hendak mengulumnya.

"Kok belum tegang maksimal?" tanyanya.

Tapi dia tetap mengulumnya dengan penuh gairah dan menghisapnya sampai akhirnya aku tegang maksimal.

Tiba saatnya aku harus menyetubuhinya layaknya seorang suami kepada istrinya, dan aku bisa melakukannya, penisku bisa tegang penuh saat melakukan penetrasi.

I feel comfort. Aku menikmati dan nyaman juga, enak ternyata. Pikirku.

Sampai aku klimaks dan spermaku muncrat ke kedalam, berenang menuju sel telur untuk membuahinya.

-00-

"Mas," ucap istriku sambil menyodorkan hasil tes kalau dia positif hamil.

Kami bahagia melihatnya, kabar itupun kami bagikan ke orang tua kami.

Saat istriku hamil, keraguanku seakan sirna kalau aku gay. Bukan, aku bukan gay, aku bisa memfungsikan diriku sebagai laki-laki.

Tapi, sampai saat inipun masih ada ketertarikan dengan sesama cowok, terutama yang masih lebih muda dan cakep.

Tapi aku lekas menampik perasaan itu dan ingat bahwa aku udah menikah, aku harus konskwen dengan pilihan hidupku.

Atau memang benar aku ada sisi gay, tapi tak pernah aku ungkap, hanya aku simpan sendiri dan melampiaskannya dengan cara yang lain.

Aku bertahan untuk kebahagiaan orang lain, keluarga terutama. Jika benar begitu, aku telah memilih jadi cowok straight.

Istriku tak perlu tahu sisi lain dari diriku, begitupun keluarga, aku bisa mengontrolnya sejauh ini, dan mungkin untuk seterusnya.

By Edo (bukan nama asli)
loading...

Post a Comment

0 Comments