Adikku yang ganteng dan pacarnya yang ganteng juga - cerita pendek

loading...



Izam sering sekali datang ke rumah, dia sahabat adikku, meskipun beda jurusan, awalnya aku biasa aja sebagai kakak.

Tapi ada yang berbeda di suatu sore, saat mereka yang biasanya berisik, tiba-tiba diam di kamar sebelah.

Aku lewat untuk menuju ke dapur dan kaget saat melihat keduanya sedang berciuman mesra layaknya kekasih.

-00-

"Ini izam, temenku."

Dimas mengenalkan teman barunya, Izam anak sospol. Mereka baru menginjak semester 3. Dimas mengaku kenal Izam pas Ospek.

Sebagai kakak ya maklum aja, kan emang pas ospek mahasiswa dikelompokkan tanpa melihat jurusan dan fakultas.

Aku juga gak keberatan Izam main ke rumah, dia kalem, sopan dan cakep. Haha, serasa dapat plus plus bisa ngeliat brondong cakep main ke rumah.

Mama juga seneng Izam main ke rumah, bahkan dalam suatu makan malam, Mama nawarin Izam nginep di rumah ini aja daripada ngekos, hitung-hitung nemenin dimas.

Tambah adik satu gak apa-apa kan? Lagian juga gak resek, anaknya baik, bahkan lebih dewasa dari dimas yang jail dan kekanak kanakan.

Mungkin itulah bedanya anak kos sama anak rumahan mungkin, anak kos belajar lebih mandiri.

-00-

Tapi dimas juga cakep, pas ngumpul keluarga di hari natal, semua selalu memuji kegantengan dimas.

loading...
Kan kakaknya juga cantik, haha. Kami keluarga yang dianugrahi Tuhan fisik yang menawan.

Libur natal ini, izam tidak pulang kampung karena dia memang tidak merayakan natal, tapi dia bantu-bantu di rumah kami.

Pas keluarga ngumpul, semua kaget lihat izam. Siapa ini, tampan sekali, pacarnya dini ya? Tanya paman ibel.

Kami pun tertawa, kayak gimana gitu dianggap pacaran sama izam yang 4 tahun lebih muda dariku. Tapi izam emang keliatan dewasa banget ketimbang dimas.

Dia tipe cowok yang bikin cewek klepek-klepek, izam sangat perhatian pada kami, terutama mama.

Pas cucian numpuk, izam malah yang bantuin nyuci di dapur. Duh, bocah ini, lama-lama gue embat karena saking gemesnya.

-00-

"Eh maaf kak."

Tak sengaja aku berpapasan sama izam pas dia baru mandi, dia terlihat malu, tapi aku justru terpaku sambil menelan ludah ngeliat dada dan perut izam.

Astagah. Izam langsung bergegas ke kamar. Ya ampun, masa sih aku mulai tertarik sama brondong?

Meski sama-sama tampan, izam punya badan yang lebih atletis dari dimas, izam punya dada yang lebih bidang dan perut rata yang enak banget dilihat.

Beda sama dimas yang kebanyakan lemak karena suka nyemil. Duh, temen adekku kok ganteng plus menarik banget ya.

-00-

Aku hanya melongo melihat bibir dimas dan izam berpagut mesra, keduanya terlihat begitu menikmati.

Mereka lupa mengunci pintu dan aku melihatnya dari celah kecil karena kebetulan lewat dar dapur. Jadi, apakah selama ini mereka???

Perasaanku tak karuan saat makan malam bersama, izam dan dimas seperti biasanya selalu bercanda akrab sama mama.

Mereka terlihat seperti dua sodara ketemu gede, mama mungkin senang karena kehadiran izam membuat dimas jadi lebih ceria dan rajin belajar.

Mama sepertinya juga udah akrab sama izam, anak rantau dari pulau nun jauh sana. Mama sering ngajak izam belanja, nyuruh nyopir mobil pas lagi ada acara ke suatu tempat, izam emang bisa diandalkan dalam banyak hal.

-00-

Aku mengatur jadwal ketemu izam selepas pulang kerja di sebuah kafe, masih ada teman-temanku yang biasa nongkrong setelah kerja.

"Hai kak," izam datang menyapa.

Lusi dan imel terlihat kaget dengan kedatangan brondong cakep di antara kami.

"Cie...cie...," goda mereka.

Tapi aku langsung menarik tangan izam ke meja yang lain, ada sesuatu penting yang ingin kubicarakan berdua saja sama dia.

Izam duduk di depanku, kami saling menatap, dia tersenyum, manis sekali. Shit.

Melihat wajah izam yang lugu dan teduh itu aku jadi tak tega mengatakan sesuatu. Tiba-tiba aku ingin menitikkan air mata, tapi berusaha kutahan.

"Ada apa kak?"

Aku hanya menggeleng geleng kepala.

"Gak apa-apa, gak jadi, aku cuma pengen kamu ikut ngopi kami, yuk kesana lagi," lanjutku.

Aku tak kuasa menanyakan soal hubungannya dengan dimas adikku dan adegan ciuman sore itu.

Dimas terlihat bingung, tapi dia tetap menuruti permintaanku. Dia memesan americano coffee dan ngobrol asyik dengan temen-temenku.

Sementara aku simpan sendiri dulu, aku tak ingin semua berubah dalam waktu cepat. Bukan berarti aku mengharapkan izam, tapi aku juga memikirkan mama dan dimas.

By dini

loading...

Post a Comment

0 Comments