Mengapa Orang yang Terlalu Mudah Memaafkan Sering Diremehkan?
Memaafkan sering dipandang sebagai tindakan mulia. Banyak ajaran agama, budaya, hingga nasihat orang tua mendorong seseorang untuk memaafkan kesalahan orang lain.
Memaafkan memang dapat menurunkan stres, mengurangi beban emosi, dan membantu seseorang melanjutkan hidup.
Namun ketika dilakukan berulang kali tanpa adanya perubahan perilaku dari pihak yang bersalah, tindakan itu justru dapat mengurangi penghargaan terhadap diri sendiri dan mengubah cara orang lain memperlakukan kita.
Berikut penjelasannya berdasarkan penelitian psikologi.
1. Terlalu Mudah Memaafkan Bisa Mengikis Harga Diri
Penelitian Luchies, Finkel, McNulty, dan Kumashiro yang dimuat dalam Journal of Personality and Social Psychology memperkenalkan konsep doormat effect.
Istilah ini menggambarkan seseorang yang terus memaafkan meski berkali-kali diperlakukan buruk. Lama-kelamaan ia merasa seperti "keset" yang bisa diinjak tanpa perlawanan.
Penelitian tersebut menemukan bahwa memaafkan hanya memberikan dampak positif bila pelaku benar-benar menunjukkan penyesalan dan perubahan perilaku.
Jika tidak, harga diri korban justru menurun.
Hal ini terjadi karena seseorang merasa gagal melindungi dirinya sendiri. Ia mengetahui bahwa perlakuan itu salah, tetapi tetap membiarkannya terjadi berulang kali.
2. Pelaku Merasa Tidak Ada Konsekuensi
Dalam psikologi perilaku dikenal konsep negative reinforcement.
Ketika seseorang melakukan kesalahan tetapi tidak menerima konsekuensi apa pun, otaknya belajar bahwa perilaku tersebut aman untuk diulang.
Penelitian Frank D. McNulty pada pasangan yang baru menikah menunjukkan hasil menarik. Pasangan yang langsung dimaafkan setelah melakukan tindakan negatif justru lebih berpeluang mengulangi perilaku serupa pada hari berikutnya.
Artinya, memaafkan tanpa adanya batas yang jelas dapat menghilangkan efek jera.
Bukan karena pelaku selalu berniat jahat, melainkan karena otak manusia belajar dari konsekuensi yang diterima.
3. Orang Lain Mulai Menganggap Anda Selalu Akan Mengalah
Hubungan antarmanusia selalu dipenuhi proses membaca karakter.
Orang memperhatikan bagaimana kita bereaksi ketika disakiti, dibohongi, atau diperlakukan tidak adil.
Jika berkali-kali Anda memaafkan tanpa protes atau perubahan aturan hubungan, muncul kesan bahwa Anda akan selalu menerima perlakuan tersebut.
Akibatnya, sebagian orang menjadi lebih berani melanggar batas yang Anda miliki.
4. Rasa Hormat Berasal dari Kemampuan Menjaga Batas
Dalam hubungan sosial, rasa hormat tidak muncul karena seseorang mudah marah atau menakut-nakuti.
Rasa hormat lebih sering lahir karena seseorang konsisten menjaga batas yang ia tetapkan.
Misalnya, seseorang berkata bahwa ia tidak menerima kebohongan. Ketika kebohongan terjadi, ia memberikan konsekuensi yang sesuai.
Konsistensi seperti ini membuat orang lain memahami bahwa setiap tindakan memiliki akibat.
Sebaliknya, bila semua kesalahan selalu dimaafkan, batas tersebut menjadi tidak lagi dipercaya.
5. Terlalu Baik Belum Tentu Membuat Hubungan Lebih Sehat
Psikologi mengenal sifat agreeableness, yaitu kecenderungan seseorang mudah bekerja sama, ramah, dan menghindari konflik.
Sifat ini memiliki banyak keuntungan.
Namun bila tidak diimbangi kemampuan bersikap tegas atau assertiveness, seseorang lebih mudah dimanfaatkan.
Ia cenderung berkata "iya" meski sebenarnya keberatan.
Ia memaafkan walaupun hatinya terluka.
Ia mempertahankan hubungan yang sebenarnya sudah tidak sehat.
Dalam jangka panjang, pola ini justru membuat hubungan menjadi tidak seimbang.
6. Memaafkan Berbeda dengan Membiarkan
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap memaafkan sama dengan membiarkan.
Padahal keduanya berbeda.
Memaafkan berarti melepaskan dendam agar diri sendiri tidak terus dibebani kemarahan.
Membiarkan berarti mengizinkan perilaku buruk terus berlangsung tanpa perubahan.
Seseorang bisa memaafkan mantan pasangan yang berselingkuh, tetapi tetap memilih mengakhiri hubungan.
Ia tidak menyimpan kebencian, tetapi juga tidak membuka kesempatan untuk disakiti lagi.
Inilah bentuk memaafkan yang sehat.
7. Mengapa Orang yang Selalu Memaafkan Sering Diremehkan?
Dalam teori pertukaran sosial atau social exchange theory, setiap hubungan memiliki biaya dan manfaat.
Jika seseorang mengetahui bahwa melanggar batas tidak pernah menimbulkan akibat, maka biaya melakukan pelanggaran menjadi sangat kecil.
Situasi ini membuat sebagian orang kehilangan rasa segan.
Bukan karena korban tidak memiliki nilai sebagai manusia, melainkan karena perilakunya mengirim sinyal bahwa ia tidak akan mempertahankan kepentingannya sendiri.
8. Penelitian Menunjukkan Ada "Sisi Gelap" dari Memaafkan
Dalam publikasi berikutnya, McNulty membahas apa yang disebut sebagai the dark side of forgiveness.
Ia menemukan bahwa pada hubungan yang dipenuhi perilaku buruk, kebiasaan memaafkan justru berkaitan dengan berlanjutnya agresi psikologis bahkan kekerasan fisik.
Hal ini tidak berarti memaafkan menyebabkan kekerasan.
Namun memaafkan tanpa adanya perubahan perilaku dapat membuat siklus tersebut terus berlangsung.
Karena itu banyak psikolog menyarankan agar proses memaafkan selalu disertai evaluasi terhadap keamanan dan kesehatan hubungan.
9. Orang Bijak Tetap Memaafkan, Tetapi Tidak Kehilangan Martabat
Peneliti forgiveness, Everett Worthington, menjelaskan bahwa memaafkan memiliki manfaat besar bagi kesehatan mental.
Namun ia juga mengingatkan bahwa orang yang terlalu mudah memaafkan dapat menjadi sasaran eksploitasi bila mengabaikan keadilan dan tanggung jawab pelaku.
Dengan kata lain, memaafkan bukan berarti menyerahkan seluruh kendali kepada orang yang telah menyakiti kita.
Martabat tetap harus dijaga.
10. Bagaimana Cara Memaafkan yang Sehat?
Psikologi memberikan beberapa langkah yang lebih aman.
- Maafkan agar diri terbebas dari dendam, bukan agar semua kembali seperti semula.
- Pastikan pelaku menunjukkan penyesalan dan perubahan perilaku yang nyata.
- Tetapkan batas yang jelas bila hubungan ingin diteruskan.
- Berani mengatakan tidak terhadap perlakuan yang merugikan.
- Latih komunikasi yang tegas tanpa bersikap kasar.
- Bila kesalahan terus berulang, pertimbangkan menjaga jarak atau mengakhiri hubungan.
Memaafkan bukan berarti melupakan pelajaran yang sudah diberikan pengalaman.
***
Psikologi tidak pernah mengajarkan bahwa memaafkan adalah kelemahan. Sebaliknya, memaafkan merupakan kemampuan mengelola emosi yang sangat penting.
Namun penelitian menunjukkan bahwa memaafkan tanpa adanya tanggung jawab, perubahan perilaku, dan batas yang jelas dapat membawa dampak yang tidak diinginkan.
Harga diri dapat menurun, pelaku merasa aman mengulangi kesalahan, dan orang lain mulai memandang kita sebagai pribadi yang mudah diperlakukan semaunya.
Karena itu, memaafkan perlu disertai kebijaksanaan. Lepaskan dendam demi ketenangan batin, tetapi tetap pertahankan batas yang melindungi martabat dan kesejahteraan diri.
Memaafkan tidak mengharuskan seseorang menerima perlakuan buruk tanpa akhir. Justru kemampuan berkata "cukup" pada waktu yang tepat merupakan bagian penting dari penghargaan terhadap diri sendiri. []
