Kenapa Tidak Memamerkan Kesuksesan di Media Sosial Justru Menguntungkan Secara Psikologis


Di era media sosial, kesuksesan sering terasa wajib diumumkan. Naik jabatan sedikit, unggah. Beli barang mahal, unggah. 

Padahal, semakin banyak orang memamerkan pencapaian, semakin banyak pula yang merasa lelah—baik yang melihat maupun yang memposting. 

Menariknya, sejumlah kajian psikologi dan sosiologi menunjukkan bahwa tidak memamerkan kesuksesan justru berkorelasi dengan kualitas hidup yang lebih tenang dan stabil.

Ini bukan soal rendah hati palsu, tapi soal strategi hidup yang masuk akal.

1. Tidak Banyak Dimintai Tolong (yang Kadang Tidak Masuk Akal)

Ketika seseorang sering menampilkan simbol kesuksesan—uang, jabatan, gaya hidup—otak sosial orang lain secara otomatis melakukan klasifikasi: “Dia mampu.” 

Akibatnya, muncul ekspektasi untuk membantu, meminjamkan, atau menyelamatkan. 

Penelitian tentang social signaling menunjukkan bahwa sinyal status tinggi cenderung menarik lebih banyak permintaan sosial, termasuk yang bersifat oportunistik.

Dengan menjaga pencapaian tetap privat, batas sosial menjadi lebih jelas. Energi mental tidak terkuras untuk menolak permintaan yang sebenarnya bukan tanggung jawab kita. Hidup lebih ringan, dompet dan hati lebih aman.

2. Terhindar dari Orang-Orang Modus

Media sosial adalah etalase, dan etalase selalu mengundang pengamat. 

Masalahnya, tidak semua pengamat datang dengan niat baik. Psikologi sosial mengenal istilah instrumental relationship, relasi yang dibangun bukan karena ketulusan, melainkan manfaat.

Ketika kesuksesan tidak dipamerkan, relasi yang bertahan biasanya berbasis kedekatan nyata, bukan potensi keuntungan. 

Ini semacam filter alami: yang tinggal biasanya memang peduli, bukan sekadar berharap cipratan.

3. Lebih Stabil Secara Emosi

Memamerkan kesuksesan sering memicu siklus emosional yang melelahkan. 

Setelah unggahan diposting, otak menunggu validasi: like, komentar, pujian. 

Dopamin naik sebentar, lalu turun. Besok ingin mengulang. Ini mirip treadmill emosional—lari capek, tapi tidak ke mana-mana.

Studi tentang self-worth contingency menunjukkan bahwa harga diri yang bergantung pada pengakuan eksternal cenderung rapuh. 

Dengan tidak menjadikan media sosial sebagai panggung validasi, emosi lebih stabil. Senang tetap senang, sedih tetap bisa diproses, tanpa perlu audiens.

4. Tidak Terbuai Konten Keberhasilan yang Melelahkan

Ironisnya, orang yang sering pamer kesuksesan juga paling rentan lelah melihat kesuksesan orang lain. 

Algoritma tidak kenal empati: begitu kamu konsumsi konten “achievement”, kamu akan dibanjiri lebih banyak konten serupa. 

Hasilnya adalah comparison fatigue—lelah membandingkan hidup sendiri dengan highlight hidup orang lain.

Dengan memilih diam, kita juga cenderung lebih kebal terhadap ilusi kesuksesan instan. Fokus kembali ke proses nyata, bukan etalase digital yang penuh kurasi dan filter.

***
Tidak memamerkan kesuksesan di media sosial bukan berarti anti-prestasi atau anti-bahagia. Ini soal memilih ketenangan jangka panjang dibanding kepuasan sesaat. 

Kesuksesan yang paling sehat sering kali tidak berisik. Ia bekerja diam-diam, menjaga hidup tetap stabil, relasi tetap tulus, dan pikiran tetap waras—sesuatu yang justru makin langka di dunia yang terlalu ramai. []

Tags:
Link copied to clipboard.