Memeluk Cowok Ganteng Bisa Mengurangi Stres, Sains Ungkap Kekuatan Pelukan dan Persepsi Daya Tarik
Ganteng, kalem lagi
| Foto hasil generate AI, bukan figur nyata. |
Stres adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Tekanan akademik, pekerjaan, dan tuntutan sosial membuat tubuh terus berada dalam kondisi siaga.
Namun, ada satu interaksi sederhana yang terbukti secara ilmiah mampu meredakan stres: pelukan.
Menariknya, persepsi daya tarik seseorang—misalnya memeluk cowok yang dianggap ganteng—dapat memperkuat efek relaksasi ini.
Fenomena ini bukan sekadar perasaan subjektif, tetapi memiliki dasar biologis yang jelas.
Secara ilmiah, pelukan memicu pelepasan hormon oksitosin. Oksitosin sering disebut sebagai “hormon kasih sayang” karena berperan dalam membangun ikatan emosional, rasa aman, dan ketenangan.
Ketika seseorang menerima pelukan, kadar oksitosin meningkat, sementara hormon stres seperti kortisol menurun.
Penelitian dalam jurnal Psychoneuroendocrinology menunjukkan bahwa kontak fisik yang hangat dapat menurunkan tekanan darah dan memperlambat detak jantung, dua indikator utama berkurangnya stres.
Namun, ada faktor tambahan yang membuat pelukan terasa lebih kuat efeknya: persepsi daya tarik.
Otak manusia memiliki sistem penghargaan yang disebut reward system, yang melibatkan neurotransmiter seperti dopamin.
Ketika seseorang melihat atau berinteraksi dengan individu yang dianggap menarik, sistem ini aktif, menghasilkan perasaan senang, nyaman, dan aman.
Dengan kata lain, memeluk seseorang yang dianggap ganteng bukan hanya memberikan sentuhan fisik, tetapi juga stimulasi psikologis yang memperkuat efek relaksasi.
Perlu dipahami bahwa “ganteng” bukanlah konsep absolut. Daya tarik bersifat relatif dan dipengaruhi oleh pengalaman, budaya, dan preferensi pribadi.
Seseorang mungkin menganggap wajah tertentu menarik karena simetri, ekspresi hangat, atau bahkan kenangan emosional yang terkait.
Otak tidak bereaksi terhadap standar objektif semata, melainkan terhadap persepsi subjektif. Karena itu, efek menenangkan dari pelukan lebih berkaitan dengan rasa nyaman dan ketertarikan pribadi daripada standar kecantikan universal.
Selain hormon oksitosin dan dopamin, pelukan juga mengaktifkan sistem saraf parasimpatik.
Sistem ini berfungsi sebagai “rem biologis” yang membantu tubuh keluar dari mode stres.
Aktivasi sistem parasimpatik membuat otot lebih rileks, pernapasan lebih teratur, dan pikiran menjadi lebih tenang.
Inilah alasan mengapa satu pelukan sederhana dapat langsung membuat seseorang merasa lebih stabil secara emosional.
Efek ini bahkan dapat terjadi dalam waktu singkat. Studi menunjukkan bahwa pelukan selama 10–20 detik sudah cukup untuk memicu perubahan fisiologis yang signifikan.
Tubuh merespons sentuhan sebagai sinyal keamanan, yang secara evolusioner penting untuk kelangsungan hidup manusia sebagai makhluk sosial.
Namun, penting untuk menekankan bahwa faktor utama bukanlah semata-mata ketampanan fisik, melainkan rasa aman, nyaman, dan ketertarikan emosional.
Ketampanan hanya berfungsi sebagai medium yang memperkuat respons positif otak. Jika pelukan berasal dari seseorang yang tidak disukai atau tidak dipercaya, efek relaksasi justru bisa berkurang atau bahkan tidak muncul sama sekali.
-00-
Memeluk cowok yang dianggap ganteng dapat membantu mengurangi stres, bukan karena ketampanan itu sendiri memiliki kekuatan magis, tetapi karena kombinasi sentuhan fisik, pelepasan hormon oksitosin, aktivasi sistem penghargaan otak, dan persepsi subjektif daya tarik.
Satu pelukan yang tepat dapat menjadi sinyal biologis bahwa tubuh aman, diterima, dan tidak perlu berada dalam kondisi siaga. Dalam dunia yang penuh tekanan, pelukan sederhana ternyata adalah salah satu bentuk terapi alami yang paling efektif dan manusiawi.