Menjadi Melankolis Ternyata Berbahaya, Antara Romantisme, Ingatan Masa Lalu, dan Risiko Kesehatan Mental
Apakah kamu melankolis?
Kata melankolis sering terdengar indah. Ia kerap dilekatkan pada sosok yang tenang, romantis, peka perasaan, bahkan dianggap “berjiwa seni”.
Dalam keseharian, orang melankolis digambarkan sebagai pribadi yang mudah tersentuh, cengeng, dan gemar merenung.
Tapi benarkah melankolis hanya soal kepekaan dan romantisme? Ataukah ada sisi lain yang justru berbahaya?
Jika ditarik ke belakang, pengertian melankolis ternyata jauh lebih kompleks dan serius.
Sekitar abad ke-10, Ibnu Sina—ilmuwan Muslim besar yang dikenal di Barat sebagai Avicenna—membahas kondisi ini dalam kajian fisiologi dan psikofisiologi. Ia menggunakan istilah melankolia atau uzn, yang secara sederhana dapat diartikan sebagai kesedihan mendalam yang menetap dalam pikiran.
Dalam salah satu pembahasannya, Ibnu Sina menyebut bahwa melankolia bisa dipicu oleh mabuk cinta. Gejalanya antara lain denyut jantung yang meningkat, kegelisahan, pikiran yang terus berputar, dan perubahan kondisi tubuh. Dari sinilah, barangkali, melankolis kemudian diasosiasikan dengan cinta, kerinduan, dan romantisme. Namun, bagi Ibnu Sina, melankolia bukan sekadar soal perasaan lembut—ia adalah kondisi mental yang patut diwaspadai.
Secara lebih mendalam, melankolia (uzn) adalah keadaan pikiran yang terus-menerus terikat pada masa lalu. Masalahnya, masa lalu manusia tidak tunggal. Ia terdiri dari kenangan bahagia sekaligus pahit. Keduanya bercampur, melebur bersama waktu, dan sering kali muncul tanpa bisa dikendalikan.
Mereka yang memiliki kecenderungan melankolis umumnya senang mengenang masa lalu. Hal ini sebenarnya tidak keliru. Mengenang masa lalu bisa menjadi cermin untuk memahami diri, mengambil pelajaran, dan menata masa kini. Namun persoalan muncul ketika aktivitas mengenang itu dilakukan secara berlebihan.
Mengenang kebahagiaan yang sudah hilang dapat melahirkan kesedihan mendalam. Seseorang bisa terjebak dalam perasaan “dulu lebih indah”, lalu memandang masa kini sebagai ruang yang hampa. Sebaliknya, mengenang kepahitan masa lalu—pengkhianatan, kegagalan, kehilangan—dapat memicu trauma yang terus berulang. Dua-duanya sama-sama tidak menyehatkan bagi kondisi psikologis.
Dalam perspektif medis klasik, kondisi ini bahkan dikaitkan dengan gangguan fisik. Ada keyakinan bahwa pikiran yang terus larut dalam kesedihan dapat memengaruhi kerja tubuh. Muncullah teori-teori lama seperti anggapan tentang “kelembaban otak” atau gangguan pada sistem saraf—yang kelak dikenal dalam sejarah sebagai bagian dari frenologi dan psikosomatik awal. Meski banyak teori lama telah direvisi, satu hal tetap relevan hingga kini: cara berpikir sangat memengaruhi kesehatan fisik.
Psikologi modern pun mengakui hubungan erat antara pikiran, emosi, dan tubuh. Terlalu larut dalam kesedihan bisa memicu stres kronis, gangguan tidur, penurunan imunitas, hingga depresi. Melankolis yang tak terkendali bukan lagi sekadar sifat, melainkan risiko kesehatan mental.
Sikap melankolis sering muncul dalam bentuk terlalu tenggelam dalam duka: karena pengkhianatan, kehilangan orang tercinta, atau kebahagiaan yang tak kembali. Pada tahap tertentu, seseorang mulai membangun narasi bahwa hidupnya telah “selesai” di masa lalu. Masa depan kehilangan makna.
Pada taraf yang lebih mengkhawatirkan, melankolia bisa mendorong tindakan ekstrem. Sejarah dan realitas sosial mencatat, tidak sedikit orang yang memilih bunuh diri karena merasa lebih baik mati daripada hidup tanpa cinta, tanpa kebahagiaan, atau tanpa sosok yang hilang. Di titik ini, melankolis bukan lagi romantis—ia menjadi berbahaya.
Karena itu, melankolia sejatinya mendorong perilaku berlebihan dan tidak rasional jika tidak disadari dan dikelola. Mengenang boleh, merasa sedih manusiawi, tetapi terjebak di masa lalu adalah jebakan yang perlahan menggerogoti kesehatan mental.
Melankolis bukan musuh, tetapi ia juga bukan sifat yang boleh dibiarkan liar. Ia perlu disadari, dibatasi, dan diarahkan. Jika tidak, sesuatu yang tampak puitis bisa berubah menjadi racun yang sunyi.