Teori Tangga Realitas, Kenapa Hidup Nggak Pernah Benar-Benar Mulai dari Garis yang Sama



Coba bayangkan hidup itu seperti tangga. Bukan tangga darurat, tapi tangga realitas. Setiap orang lahir di anak tangga yang berbeda-beda. 

Ada yang sejak lahir sudah berdiri di tangga atas, ada juga yang baru menginjak anak tangga paling bawah. 

Nah, Teori Tangga Realitas berangkat dari situ: hidup nggak pernah adil soal titik start.

Ada orang yang lahir di tangga 1. Serba terbatas. Akses pendidikan pas-pasan, ekonomi mepet, pilihan hidup sempit. 

Tapi kalau orang ini tumbuh, berproses, belajar, jatuh-bangun, lalu naik ke tangga 2, itu namanya progres. 

Hidupnya maju. Walaupun mungkin secara sosial masih dianggap “biasa saja”, tapi secara realitas, dia sedang naik.

Sebaliknya, ada juga yang lahir di tangga 3. Keluarga mapan, jaringan luas, peluang terbuka. Tapi dalam perjalanan hidupnya justru turun ke tangga 2. 

Secara angka, posisinya sama dengan orang pertama. Sama-sama di tangga 2. Tapi ceritanya beda. Yang satu naik, yang satu turun. Yang satu berjuang, yang satu kehilangan.

Di sinilah poin penting Teori Tangga Realitas: posisi yang sama belum tentu punya makna yang sama

Kita sering keliru menilai orang cuma dari “sekarang ada di mana”, tanpa peduli “berangkat dari mana”. 

Padahal, start yang berbeda bikin makna pencapaian juga beda total.

Yang menarik, orang-orang yang lahir dari keluarga mapan justru sering menghadapi tantangan yang lebih berat, meski kelihatannya hidup mereka enak. 

Mereka dibebani nama besar keluarga, ekspektasi tinggi, standar sukses yang nggak boleh turun. 

Salah langkah dikit, langsung dianggap gagal. Ruang untuk mencoba dan salah jadi sempit.

Sementara itu, mereka yang lahir dari bawah memang punya akses terbatas. Banyak pintu yang tertutup sejak awal. 

Tapi justru karena nggak dibayang-bayangi kebesaran keluarga, mereka punya kebebasan lebih besar buat mendesain diri. 

Mau jadi apa pun, relatif lebih leluasa. Gagal? Ya wajar. Jatuh? Biasa. Dari bawah, arah hidup justru bisa lebih fleksibel.

Tentu saja, ini bukan berarti hidup dari bawah itu lebih mudah. Justru sebaliknya. 

Naik tangga dari bawah butuh tenaga lebih besar. Setiap satu langkah terasa berat. Tapi setiap kenaikan juga punya makna yang lebih dalam, karena benar-benar hasil dari proses.

Akhirnya, Teori Tangga Realitas ngajarin kita satu hal penting: jangan samakan semua orang dengan penggaris yang sama

Hidup bukan lomba lari dengan garis start seragam. Yang penting bukan cuma kamu ada di tangga berapa, tapi kamu sedang naik atau turun. Dan yang lebih penting lagi: kamu sadar nggak, dari mana kamu memulai?

Karena di situlah realitas bekerja.

Tags:
Link copied to clipboard.